Lynx menatap Kanaya dan berkata, "Aku tidak mengenal siapa itu Komandan Vex. Kamu harus mengantar kami menuju tempat Lala."

Kanaya mengangguk pelan, wajahnya tampak tertekan. "Aku hanya bersedia menunjukkan lokasinya dari jauh. Aku tidak bersedia mengantar lebih daripada itu."

Ia merasa tak punya pilihan. Jika terlalu dekat, ia bisa ketahuan, dan Komandan Vex tidak akan segan membunuhnya lewat partikel nano yang tertanam di tubuhnya.

"Baiklah, aku setuju. Tapi ingat, kamu tidak akan bisa lepas dariku jika berani menipuku. Aku sudah meninggalkan jejak di tubuhmu. Ke mana pun kamu pergi, aku akan tahu."

"Meninggalkan jejak?" Kanaya membatin, tidak memahami maksudnya, namun mengingat Lynx adalah seorang kultivator, ia hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut.

"Aku yakin, sekuat apa pun dirimu, tidak akan sanggup mendekati bangunan itu," batin Kanaya, sesekali melirik Leena yang masih berada dalam pengaruhnya.

Tanpa diketahui siapa pun, sudut bibir Kanaya terangkat. "Wanita ini... kelak akan memberitahuku rahasia kekuatan pemuda itu, dan bagaimana cara mengalahkannya. Dia senjata rahasiaku sekarang. Aku tidak boleh gegabah, karena pemuda itu bisa saja menghapus pengaruhku kapan saja."

Setelah memastikan Kanaya bersedia bekerja sama, Lynx berbalik dan melangkah menuju Ratih yang berdiri diam, mematung. Perempuan itu tampak ragu. Ia tahu, kemampuan membidik dan penyembuhannya tak akan banyak berguna melawan pria ini. Bahkan kekuatan penyembuh Lynx sendiri terasa jauh lebih kuat dari miliknya.

Langkah Lynx perlahan mendekat, matanya menatap tajam ke arah Ratih. Sebelumnya ia terlalu fokus pada pertarungan hingga tak memperhatikan wajah lawannya. Tapi kini, dari jarak dekat, wajah itu terlihat jelas.

Samar, tapi tak asing. Wajah Ratih... mirip Rira.

Namun Lynx segera menyadari, tak mungkin wanita ini adalah Rira. Di dimensi ini, kesamaan rupa bisa saja terjadi. Seperti halnya Ling Mei yang menyerupai Leena, dan pria bertopeng di arena kematian, Khorr, yang mirip Chiko.

Saat Lynx mendekat, Ratih tampak menggenggam pisau belati di tangannya. Jemarinya gemetar, matanya dipenuhi kecemasan yang membakar. Tatapannya menusuk tajam ke arah Lynx, tubuhnya tegang seolah siap meledak.

"Aku tidak akan membiarkan dia menyiksaku," gumamnya dalam hati. "Aku lebih baik mati... daripada dipermalukan seperti itu."

Bayangan tentang nasib Kanaya menghantui benaknya. Sebagai wanita, Ratih merasa tak sanggup membayangkan wajahnya yang selama ini dirawat menjadi rusak dan tak dikenali.

Dengan napas tertahan, ia bersiap mengayunkan belatinya, bukan untuk menyerang Lynx, tetapi menusuk dirinya sendiri. Tapi sebelum sempat bergerak, Lynx sudah berdiri tepat di depannya. Tatapan matanya menusuk dalam, bukan dengan ancaman, tapi dengan pemahaman.

"Jangan lakukan itu," ucap Lynx tenang, namun tegas. Suaranya seolah menghentikan waktu. "Aku datang ke tempat ini bukan untuk bertarung dengan kalian. Aku hanya ingin menyelamatkan teman kami, Lala."

Ratih menatapnya lekat. Ada tanda tanya di benaknya. Siapa sebenarnya pria ini? Apa hubungannya dengan Profesor Lala yang ditangkap Kanaya?

"Siapapun kalian," ujarnya akhirnya dengan nada keras, "pusat sudah menganggap kalian ancaman bagi bumi ini. Jika kalian tidak ingin mencari musuh, pergilah. Kembalilah ke tempat asal kalian."

"Kami akan pergi," jawab Leena pelan namun mantap sambil melangkah ke sisi Lynx, "setelah membebaskan Lala dan memastikan dia selamat."

"Lala itu warga bumi," balas Ratih cepat. "Dia berkhianat dan mencuri rahasia negara. Ini bukan lagi urusan kalian!"

Lynx tersenyum tipis, namun pandangannya tajam menusuk. "Jadi kamu tahu di mana Lala berada? Sepertinya aku harus membawamu juga mencarinya. Agar lokasi Lala benar-benar aku temukan."

"Tidak. Kami tidak mengetahuinya. Kami hanya menjalankan tugas di lapangan. Hanya Kanaya yang mengetahui keberadaan Lala." jawab Ratih cepat. Selain dia tidak mengetahui dimana keberadaan Lala, ini juga kesempatan untuk mencari kesalahan Kanaya.

"Kita akan lihat nanti. Kamu harus ikut bersama kami." kata Lynx tegas.

"Dan kalian, aku akan melepaskan kalian kali ini. Kuharap kalian tidak menghalangiku lagi lain kali." kata Lynx sambil memandang Kilat dan Ockron yang masih terikat erat.

Kilat dan Ockron hanya diam. Mereka masih tidak mampu bergerak karena ulah Lynx yang mengikat mereka dengan tentakel milik Ockron.

Ia lalu menoleh pada Leena. "Jagalah mereka. Aku akan pergi sebentar."

Di sisi lain, tidak jauh dari lokasi mereka, Habibi dan Laura masih mencoba memahami penghalang aneh yang menutupi area pertarungan. Mereka melangkah mendekat, tapi seolah menabrak dinding tak kasat mata. Tak peduli bagaimana mereka mencobanya, penghalang itu tak bisa ditembus.

"Laura, Habibi."

Sebuah suara terdengar di belakang mereka. Refleks, mereka berbalik cepat.

"Lynx... kamu di sini?" tanya Laura tergagap, pura-pura tak tahu. "Kenapa kamu sendiri? Mana Leena?"

"Laura, Habibi. Ikut denganku sebentar."

Tanpa menjawab, Lynx langsung merangkul pinggang mereka, lalu melesat ke langit membawa keduanya terbang.

"Tidaaakkkk! Lepaskan! Lepaskan aku! Aku takut ketinggian!" Laura menjerit panik, tubuhnya gemetar. Di bawah sana, kota Hesperis tampak sekecil titik cahaya.

Habibi membisu, wajahnya pucat. Ia memejamkan mata erat-erat. Dalam hati ia bergumam, "Mati sudah aku kali ini... Bu, maafkan anakmu... belum sempat jadikan Laura menantu..."

Lynx bisa merasakan tubuh mereka berdua gemetar hebat. Getaran ketakutan itu menjalar hingga ke lengannya. Tapi bukan tanpa alasan ia membawa mereka terbang ke ketinggian seperti ini. Sejak mencari keberadaan Kanaya, Lynx telah merasakan jejak mereka dari kejauhan. Ia tahu, Laura dan Habibi menyaksikan segalanya, dan besar kemungkinan sebagai wartawan, mereka sedang merekam seluruh kejadian.

"Apakah kalian tahu kenapa kalian kubawa ke tempat ini?" tanya Lynx, suaranya datar, tapi mengandung tekanan yang sulit diabaikan.

"Tidak, tidak! Kami benar-benar tidak tahu!" jawab Habibi tergagap, matanya mencari-cari pegangan di udara yang hampa. "Tolong, lepaskan kami! Kita kan sudah saling kenal, bahkan berteman!"

"Betul! Kita berteman!" timpal Laura cepat-cepat. Suaranya gemetar, wajahnya pucat. Ia memejamkan mata kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan kota yang tampak seperti titik-titik cahaya di bawah sana. Namun angin kencang di ketinggian menampar wajahnya tanpa ampun, membuat seluruh jiwanya seakan tercerabut dari tubuh.

Tangannya mencengkeram lengan Lynx, suara napasnya tak beraturan. "Tolong, aku takut, jangan jatuhkan aku"

"Aku akan mengatakan ini dengan jujur kepada kalian," ucap Lynx sambil menatap mereka tajam. "Kami datang ke tempat ini bukan untuk mencari keributan atau musuh. Kami hanya ingin menyelamatkan teman kami. Jadi, aku berharap kalian tidak menyebarkan satu patah kata pun tentang kehadiran kami di kota ini. Apakah kalian mengerti?"

"Mengerti, mengerti!" sahut mereka serempak, nyaris bersamaan. "Kami janji, tidak akan memberitahu siapa pun!"

"Bagus," kata Lynx, nadanya dingin. "Karena kalau aku mendengar satu kabar saja tentang kami beredar di luar sana, kalian akan belajar jadi burung. Dari atas sini."

Lynx tidak tertarik membahas kebohongan Laura soal Kanaya. Lagi pula, berkat kebohongan itulah dia bisa menemukan Kanaya lebih cepat, dan kini tinggal selangkah lagi menuju Lala.

"Baik-baik, kami mengerti," kata Habibi cepat, nadanya gugup.

Merasa cukup memberi pelajaran, Lynx melesat dan menghilang dalam sekejap, meninggalkan Laura dan Habibi di bagian kota lain, sebagai bentuk peringatan tambahan.

"Lynx, apa yang terjadi?" tanya Leena sambil mendekat.

"Aku akan memberitahumu nanti," bisik Lynx.

"Leena, bawalah wanita itu. Aku akan membawa Kanaya," katanya sembari melangkah ke arah Kanaya.

Kanaya, yang tubuhnya sudah pulih berkat energi Lynx, hanya menatap tanpa perlawanan. Dia tahu tidak ada gunanya melarikan diri lagi.

"Instingku mengatakan pemuda ini punya cara untuk menemukan keberadaanku. Ucapannya soal jejak tadi membuatku khawatir. Lebih baik kubawa dia langsung ke markas, biar komandan Vex yang menghadapinya," pikir Kanaya.

"Kita berangkat sekarang. Tunjukkan arah tempat kalian menahan Lala," perintah Lynx.

Kanaya menunjuk ke kejauhan. "Sekitar lima puluh kilometer dari sini, di luar kota Hesperis. Tapi ingat, aku hanya menunjukkan arahnya."

Lynx tersenyum singkat, lalu meraih pinggang Kanaya dan membawanya terbang ke angkasa. Leena yang melihat itu langsung menyusul, matanya menyipit kesal.

"Huh, dasar pria. Merangkul wanita lain seperti itu. Padahal ada banyak cara lain," gumam Leena, suaranya pelan tapi cukup terdengar oleh Ratih yang dituntunnya terbang. Ratih menahan tawa di balik rasa takutnya yang di bawa terbang ke angkasa.

"Sialan, aku tidak menyangka dia akan membawa aku terbang seperti ini. Aku melupakan kemampuannya. Dengan begini, komandan Vex tidak akan tahu kalau dia sedang datang," gerutu Kanaya dalam hati.

